Header Ads

Danau Tihu, Eksotisme Wisata di Tengah Wetar

Legenda Buaya Kepala Tujuh dan Pulau Ibu yang tak Lekang Waktu

Pulau Wetar sudah kesohor ke mancanegara beberapa abad silam. Bahkan dari aspek geostrategis dan geopolitik global, pulau penghasil tambang emas dan tembaga itu kini ’’diminati’’ pejabat Departemen pertahanan (Dephan) Amerika Serikat di Pentagon dan militer Australia untuk pembangunan pangkalan militer AS dan sekutunya di Kawasan Pasifik.

PULAU Wetar juga merupakan salah satu dari 92 pulau terluar yang menjadi beranda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jarak pulau ini dengan Dili, ibu kota Republik Demokratik Timor Leste (Republica Democratica de Timor Leste), sekira 23 mil laut. Butuh waktu 1,5 hingga 2 jam untuk menyeberang dengan alat transportasi tradisional ke negara bekas provinsi ke-27 RI itu jika nantinya perjanjian (agreement) tapal batas laut kedua negara disepakati.

Upaya diplomasi ke arah itu masih sebatas diskursus politik karena pembahasan pengesahan tapal batas daratan di Atapupu-Atambua pun belum terlegitimasi.

Dalam kepentingan menjaga kawasan perairan sesuai Konvensi Hukum Laut PBB atau UNCLOS (United Nations Convention on the Law Of the Sea) yang diratifikasi di Montego Bay, Jamaika pada 1982, perairan Selat Ombay-Selat Wetar masuk dalam Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) III. Kawasan ini menjadi selat penting ketujuh dunia di abad ke-21.

Tapi Wetar bukan hanya punya kelebihan komparatif seperti itu. Ada bagian lain yang bisa dijadikan ’’komoditas’’ menarik masuk wisatawan domestik dan luar negeri ke Kabupaten Maluku Barat Daya setelah lima tahun menjadi daerah otonom, lepas dari genggaman Maluku Tenggara Barat.

Danau Tihu adalah ’’ukup-ukupan’’ yang menjadi entry gate (pintu masuk) dan exit gate (pintu keluar) bagi MBD, bekas wilayah Keresidenan Timor (Residentie van East) pada 1925, untuk menggenjot donasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) setempat, selain minyak dan gas yang melimpah di Blok Masela, Blok Sermata, Blok Wetar, Blok Leti, dan blok-blok lain.

Danau Tihu merupakan satu-satunya danau di pulau Wetar. ’’Di situ (Danau Tihu) kita bisa melihat kehidupan habitat satwa liar, umumnya buaya,’’ kata Pey Pauline Manaha, Pelaksana Tugas Kepala Bagian Humas dan Protokoler Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya dari Kisar, Jumat, 15 Maret 2013.

Pey memang pernah survei ke danau kebanggaan masyarakat Wetar itu. Penasaran dengan cerita warga, Pey menyewa jasa tukang ojek, Cada Maularak, dan langsung menyusuri alam Wetar yang membelalakkan mata sebelum dia sampai di Danau Tihu.

’’Perjalanan dengan kendaraan dari pusat kecamatan, Ilwaki ke Danau Tihu sekira 2 jam setelah menempuh perjalanan sepanjang lebih kurang 30 km,’’ lanjut mantan karyawan TVRI Stasion Maluku dan Maluku Utara itu.

Panjang Danau Tihu sekira 3,6 km2 dan lebar yang bervariasi karena berliku-liku dipisahkan oleh enam aliran sungai yang dipagari tebing-tebing batu terjal. Lebar tepian tebing satu dengan yang lain sekitar 2-3 meter persegi, bahkan lebarnya ada yang mencapai 2 km.

Selain memiliki keindahan alam yang eksotik, Danau Tihu juga menyimpan legenda tua yang sakral. Namun sayang, kisah mistik yang hampir lekang dalam perjalanan waktu itu tak banyak diketahui warga setempat. Padahal alur kisahnya mesti diwarisi generasi muda Wetar sebagai petuah kehidupan sekaligus mengandung pesan-pesan moral tentang pentingnya menjaga solidaritas dan hubungan dalam keluarga.

Legenda Danau Tihu berawal dari keperkasaan raksasa di zaman dulu yang menguasai seluruh petuanan Wetar. Meski kejam dan beringas, namun raksasa itu berhasil dikalahkan dua saudara kembar, Mamau dan Matereng. Kedua penduduk lokal itu punya ilmu sakti. Karena itu, tak sulit bagi mereka untuk membunuh raksasa tersebut. Mamau dan Matereng acapkali berburu hewan di hutan belantara di sekitar Danau Tihu.

Dari kisah legenda tadi, hingga kini oleh penduduk Wetar mengapung kepercayaan bahwa di Danau Tihu masih berdiam buaya berkepala dua dan buaya berkepala tujuh sebagai jelmaan dua saudara kembar yang hilang misterius.

Cerita jelmaan buaya ini begitu misterius sekaligus menyeramkan sehingga pesona Danau Tihu belum sempat dinikmati sebagian besar penduduk Wetar, apalagi turis nusantara dan pelancong asing.

Penyebabnya bukan semata-mata karena jarak tempuh yang melelahkan. Lokasinya yang keramat menyebabkan Danau ini jarang dikunjungi penduduk setempat. Umumnya mereka takut ke sana karena khawatir terjadi hal-hal di luar perkiraan manusia.

Kalau pun hendak ke tempat ini, harus lebih dulu mendapat restu Tuan Tanah atau tokoh adat setempat. Selain kisah jelmaan dua saudara kembar menjadi buaya, di tengah-tengah Danau Tihu pun masih ada legenda menarik lainnya tentang sebuah pulau kecil di tengah danau yang dinamai Elusa atau Pulau Ibu.

Pulau ini oleh penduduk setempat disebut merupakan penjelmaan dari ibu Mamau dan Matereng. Ia menghilang saat lagi mencuci di pinggir danau. Ia hilang bersamaan dengan tempat sirih yang di dalamnya berisi biji buah asam jawa. Dari biji asam jawa itulah saat ini bisa kita jumpai dua pohon asam jawa yang tumbuh di pulau kecil di tengah Danau Tihu.

Penduduk setempat memercayai pohon asam jawa yang buahnya sangat manis ini tak akan mati (punah). Di sekitar danau ini juga ditemukan tombak dan bekas telapak kaki dua saudara kembar tadi. Jika kalian penasaran untuk menyimak lebih jauh tentang legenda misterius dan bukti-bukti legenda Danau Tihu, lebih baik jadikan danau ini sebagai lokasi kunjungan wisata saat liburan panjang. Pasti menyenangkan.

Yang sudah ke tempat itu pasti akan terkejut menikmati eksotisme Danau Tihu dengan alam yang menghijau dan habitat buaya tak buas yang bisa memacu adrenalin untuk melihat keberadaannya.

Keramahan penduduk setempat dan peradaban di sana akan membuat kalian penasaran untuk meneliti sejauh mana di pulau yang kaya potensi alam masih bermukim penduduk yang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Biar begitu, penduduk setempat memiliki keanekaragaman seni budaya dipadu wisata alam yang menggoda.

Warga Wetar seperti warga di tempat lain di Indonesia, juga merana di tengah kelimpahan sumber daya alamnya. Hampir tujuh dekade bangsa Indonesia mencicipi alam kemerdekaan, namun penduduk Wetar masih terbelenggu rantai kemiskinan. Wilayahnya terisolir, penduduknya termarjinal akibat pembagian kue pembangunan yang tak proporsional dan tak pantas.

Satu hal yang mesti diwaspadai pemerintah adalah posisi Wetar yang berbatasan langsung dengan negara lain. Sehingga bisa menjadi tantangan sekaligus ancaman bagi keutuhan NKRI saat ini dan di masa mendatang.

Apalagi, Alfin Tofler dalam bukunya ’’Megatrend 2000’’ sudah memberikan warning bagi negara-negara multietnik macam Indonesia tentang pentingnya memperkukuh solidaritas sosial, memberdayakan masyarakat, dan melestarikan kearifan lokal.

Belum lagi mitos 70 tahun yang menjadi misteri bagi Indonesia pasca lepasnya Timor-Timur menjadi negara baru, Timor Leste, dan lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan di utara Kalimantan ke tangan Malaysia awal 2000 dan 2002 silam.

Jika Wetar masih dianggap sebagai pulau terluar, rakyat di sana akan terus menjerit karena ketidakadilan.Kkarena itu, jadikan Wetar sebagai ’’Beranda Depan’’ negara ini sehingga ada harapan cerah rakyatnya secerah terpaan biru langit di atas Danau Tihu yang begitu memesona.

Jangan sampai legenda jelmaan buaya kepala tujuh dan Pulau Ibu lekang karena gerusan zaman, dan penduduk Wetar akan kehilangan jati dirinya sebagai manusia-manusia sosial yang masih dengan apik melestarikan kearifan seni dan budayanya. (RONY SAMLOY)

Diberdayakan oleh Blogger.