Header Ads

Menpora Dorong Kegiatan Nasional di Papua

Jayapura - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengungkapkan keinginannya mendorong pelaksanaan kegiatan tingkat nasional di Tanah Papua, guna menepis anggapan bahwa provinsi paling timur Indonesia itu tidak aman.

"Kita harus dorong pelaksanaan berbagai kegiatan di sini (Papua) agar pandangan sebagian orang di seberang sana (daerah dan negara lain) bahwa Papua tidak aman adalah anggapan sebelah mata," kata Nahrawi, pada bertemu dengan tokoh agama Islam dan kader Ansor NU se-Papua, di Jayapura, Selasa sore.

Nahrawi menyatakan saat bertemu dengan Gubernur Papua Lukas Enembe untuk pembahasan tuan rumah penyelenggaraan Kongres XIV Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di Papua beberapa waktu lalu, ia langsung menyatakan mendukungnya.

"Saat itu, saya langsung menyatakan Kongres XVI KNPI harus dilaksanakan di Papua, dan akhir Desember ini akan ada Kongres KONI di Papua, dan 2020 ada PON di Papua," ujarnya.

Nahrawi kemudian mengajak semua pihak yang hadir dalam temu tokoh agama Islam itu untuk menyebarkan upaya mendorong pelaksanaan kegiatan nasional di Tanah Papuau.

D iantara yang hadir dalam temu tokoh Islam itu, pengurus KNPI Provinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD), dan sejumlah pengurus KNPI dari provinsi lain.

"Kita juga perlu seret u kegiatan nasional untuk diletakkan di Papua, agar kita mendapatkan kehormatan yang setinggi-tingginya di Tanah Papua," ujarnya yang disambut tepuk tangan para hadirin.

Hadir dalam momentum itu, Gubernur Papua Lukas Enembe, dan para alim ulama dan kiay NU di Tanah Papua.

Pada kesempatan itu, Lukas mengaku merupakan bagian dari politikus yang dibesarkan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), antara lain mengantarnkannya menjadi Bupati Jayawijaya, salah satu kawasan pegunungan di Provinsi Papua.

Lukas kemudian bergabung dengan Partai Demokrat hingga berhasil menduduki jabatan Gubernur Papua periode 2013-2018.

"Dulu saya bergabung dengan PKB karena mengagumi almarhum Gus Dur, saya senang dengan pola pikirnya, pandangannya pada negara, dan beliau juga yang membawa perubahan bagi Papua (mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua)," ujarnya.

Karena itu, Gubernur Papua ini sangat menghargai kemajemukan di Tanah Papua, namun tetap mempedomani empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

"Di Tanah Papua ini hampir tidak pernah ada persoalan mengenai perbedaan kebudayaan, kecuali perang suku saudara-saudara kita yang memang sudah tradisi. Itu sebabnya kita bangga menjadi bagian dari Indonesia," ujar Lukas.

Ia mengajak semua pihak untuk menjadikan Papua tanah damai hingga masa mendatang.

"Saya pun selalu tanamkan jangan menyakiti sesama manusia, agar Papua selalu menjadi tanah damai," ujarnya. (ant/bm 10)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.