Header Ads

Sebelum Wafat, Mandela Melewati Saat Indah Bersama Keluarga

London - Putri sulung Nelson Mandela pada Senin mengatakan bahwa ayahnya melewati "saat indah" selama sepekan terakhir sebelum tutup usia pada Kamis dalam usia 95 tahun.

Makaziwe Mandela mengatakan kepada BBC bahwa tokoh anti-apartheid itu bersama putra-putri, para cucu dan istrinya, Graca.

"Sampai detik-detik terakhir, ia bersama kami," katanya kepada wartawan BBC, Komla Dumor.

"Anak-anak, para cucu dan Graca ada di sana, sehingga kami berada di dekatnya sampai saat terakhir pada sepanjang hari Kamis itu." Ia mengatakan, mantan penyakit presiden Afrika Selatan itu adalah "penderitaan yang berlangsung untuk waktu yang lama" tetapi sepekan sebelum kepergiannya ia mengalami "saat yang indah".

"Ketika dokter mengatakan kepada kami ...saya kira Kamis pagi ... tidak ada hal lain yang bisa kami lakukan. Itu adalah hari paling indah bagi kami karena para cucu dan kami semua bersamanya." Sekitar 100 orang pemimpin dunia dan 80.000 warga Afrika Selatan akan berkumpul di stadion di Soweto -- tempat perjuangan anti-apartheid Mandela -- untuk melepas kepergiannya pada Selasa dan penghormatan luar biasa dari dunia untuk Mandela.

Sekitar 120 ribu orang akan bisa menyaksikan peristiwa itu melalui layar raksasa yang dipasang di tiga jalur stadion di Johannesburg.

Makaziwe mengakui bahwa menjadi sorotan publik membuat perkabungan keluarga agak repot.

Ia berharap ayahnya akan dikenang sebagai sosok yang memajukan jiwa selain kebebasan politik.

"Ia membicarakan kenyataan bahwa perlu upaya untuk memberi maaf. Memaafkan adalah suatu hal yang sulit," katanya.

"Saya pikir dia sadar bahwa jika tidak memaafkan, jiwanya akan terpenjarakan selamanya. Pelajaran yang dapat kita petik dari hidupnya adalah untuk berusaha memaafkan orang lain." "Tidak ada seorangpun dari kita yang membenci orang lain -- kita diajar untuk membenci dan bila kita bisa mengajari manusia untuk membenci maka kita juga bisa mengajar orang lain untuk mencintai, memeluk dan memaafkan," katanya kepada BBC.

Satu lagi catatan Makaziwe mengenai ayahnya yaitu bahwa Mandela bukan orang yang mudah percaya.

"Ia tidak biasa menunjukkan perasaan, orang tidak memahaminya," katanya.

"Ia tidak mudah mengemukakan perasaan. Jika sesuatu menyentuh hatinya, ia akan mengatakan 'ya Tuhan apa yang sudah saya lakukan' kemudian tutup mulut." (ant/bm 10)
Diberdayakan oleh Blogger.