Header Ads

Komitmen AS Pada Asia Tidak Dapat Diganggu

Seoul - Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada Jumat mengatakan komitmen Amerika Serikat pada perubahan strategisnya terhadap Asia jangan diragukan, saat ia mengakhiri kunjungannya ke kawasan itu, yang didominasi kekhawatiran akan masalah keamanan.

Dalam perundingan dengan Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye dan kemudian dalam satu pidato di Universitas Yonsei Seoul, Biden menegaskan kembali penentangan AS terhadap zona identifikasi pertahanan udara China, yang meningkatkan ketegangan, khususnya Beijing dengan Jepang.

Pada saat yang sama, ia menggaris bawahi bahwa regional dan global harus bersatu menghadapi "bahaya nyata dan ada" program senjata nuklir Korea Utara.

"Jangan ragu, Amerika Serikat akan tetap melakukan untuk membela sekutu-sekutu kami dan kami sendiri menghadapi agresi Korea Utara," katanya dalam pidatonya.

Ancaman yang ditimbulkan Pyongyang ditegaskan oleh publikasi Kamis dari gambar-gambar satelit yang menunjukkan kegiatan yang meningkat di lokasi nuklir utama Korut,sesuai dengan tekad rezim itu untuk memperluas program senjata-senjatanya.

Dalam perundingan dengan Park, Biden menegaskan bahwa tidak akan ada perubahan pada strategi keamanan baru Presiden Barack Obama yang menegaskan satu perubahan atau "poros" ke kawasan Asia dengan mengakui kekuatan militer China yang meningkat.

"Saya ingin menegaskan kembali "Keputusan Presiden Barack Obama untuk menyeimbang kembali pada kawasan Pasifik bukanlah satu masalah," kata Biden ketika kedua pemimpin itu duduk berunding.

"Amerika Serikat tidak pernah mengatakan apa pun jika itu tidak akan dilaksanakannya. Jangan sanksi terhadap Anerika... dan Amerika akan terus memperhatikan Korea Selatan," tambahnya.

Seoul adalah persinggahan terakhir kunjungan ke tiga negara Asia nya di mana ia telah ke Jepang dan China.

Presiden Park mendesak Biden Jumat mengenai "zona identifikasi pertahanan udara" baru China (ADIZ) serta sengketa-sengketa wilayah Beijing dan Jepang yang meningkat juga timpang tindih dengan ADIZ Korsel.

Seoul mengancam akan mengumumkan perluasan ADIZnya untuk mmbalas tindakan Beijing -- satu tindakan Biden usahakan dorong saat Washington berusaha menenangkan situasi yang rawan bahaya di kawasan itu.

Dengan mengakui sangat prihatin "deklarasi China itu, Biden menegaskan bahwa Washington tidak mengakui zona baru itu.

Akan tetapi, ketika mengunjungi Tokyo dan Beijing , ia tidak menuntut China mencabut keputusannya itu.

Ketegangan di kawasan itu mencapai puncak tertingginya dalam beberapa tahun belakangan ini, dengan China dan Jepang terlibat sengketa menyangkut satu gugusan pulau yang tidak berpenghuni yang disengketakan dan sejumlah pengamat memperingatkan bahaya bagi konfrontasi senjata.

Kendatiun menjamin Korsel bagi dukungan AS, pidato Biden di universitas itu jelas mengacu pada keinginan Washington bagi Seoul untuk mengusahakan hubungan lebih baik dengan Tokyo.

Saat berebut pengaruh di Asia antara China dan Amerika Serikat menghangat, Washington menginginkan dua sekutu militer utamanya di kawasan itu berdamai dan bersatu.

Tetapi Korsel dan Jepang tetap terlibat konflik diplomatik, dengan Park menolak berunding dengan Perdana Menteri Shinzo Abe sampai Tokyo meminta maaf atas tindakannya semasa kekuasaanya atas semenanjung Korea tahun 1910-1945.

"Seluruh kawasan itu akan lebih stabil dan lebih aman jika negara-negara demokrasi terkemuka-- Jepang, Korea selatan dan Amerika Serikat -- dapat memperbaiki hubungan-hubungan mereka dan bekerja sama," katanya.

Pada Sabtu, Biden menurut rencana akan mengunjungi zona demiliterisasi yang memisahkan Korsel dan Korut sejak akhir Perang Korea 1950-1953.

Kunjungannya dilakukan hanya beberapa hari setelah badan intelijen Korsel melaporkan satu perombakan penting dalam jajaran kepemimpinan Korut, dengan penyingkiran paman Kim Jong-Un dan mentor politik Jang Song-Thaek.

Laporan itu menimbulkan spekulasi tentang stabilitas pemerintah di Pyongyang pada saat Korut melakukan segala usaha bagi program senjata nuklirnya.

China mendesak Washington dan Seoul untuk memulai kembali perundingan enam negara tentang ambisi nuklir Korut, tetapi Biden menegaskan Pyongyang harus terlebih dulu menunjukkan komitmennya bagi denuklirisasi.

Masyarakat internasional tidak akan menerima atau mentolerisansi Korut memiliki senjata nuklir," kata wakil presiden AS itu. (ant/bm 10)
Diberdayakan oleh Blogger.