Header Ads

Gerakan perlawanan rakyat Banten terhadap Atut makin menguat

Jakarta - Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dicegah ke luar negeri selama enam bulan setelah adiknya, Chaeri Wardhana ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus suap terkait Pilkada Lebak. Atut terkenal dengan dinastinya yang sudah mengakar, khususnya pada pemerintah daerah tanah jawara tersebut.

Sekian lama bungkam, gerakan perlawanan rakyat Banten terhadap Atut dan dinastinya mulai terlihat. Berbagai elemen masyarakat Banten melakukan perlawanan terhadap orang nomor satu di Banten itu.

Seperti ratusan mahasiswa dan warga yang mengatasnamakan Jaringan Warga untuk Reformasi (Jawara) dari Banten, melakukan demo di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (7/10). Mereka mendesak KPK agar segera menangkap Ratu Atut Chosiyah.

Para mahasiswa ini dari Himpunan Mahasiswa Banten, Gerakan Tujuh Oktober (Getok) dan Untirta Movement Community (UMC). Dipaparkan oleh mereka, BPK menemukan dugaan kerugian negara akibat dari penyelewengan tersebut mencapai Rp 1 triliun. Pada tahun 2007, ditemukan indikasi kerugian negara nilainya mencapai Rp 731,36 miliar.

Kemudian ada gerakan satu juta tanda tangan yang menyerukan untuk menangkap Atut pada 'malam tolak bala', yang berlangsung di depan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (8/10).

Selain itu, gerakan yang digalang oleh Himpunan Mahasiswa Banten (HMB) juga membacakan data korupsi dinasti Atut yang didapatkannya. (Sumber: Merdeka.com)
Diberdayakan oleh Blogger.