Header Ads

Wapres : Indonesia Kurang Pemimpin

Jakarta - Wakil Presiden Boediono menilai sekalipun Indonesia memiliki sumber daya manusia dan alam melimpah namun masih kurang memiliki pemimpin amanah yang bersedia menjadikan sebagai bangsa besar.

"Padahal menjadi bangsa yang besar dan memiliki pemimpin yang amanah diimpikan dan dicita-citakan oleh para bapak bangsa yang memerdekakan negeri ini," kata Boediono saat berbicara di depan 52 pengajar muda angkatan ke-7 Indonesia Mengajar di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Kamis.

Hadir dalam acara itu Pendiri yayasan Indonesia Mengajar Anies Baswedan dan Direktur Ekeskutif Indonesia Mengajar Hikmat Hardono serta sejumlah bupati.

Menurut Wapres, pemimpin yang baik adalah yang langsung turun ke bawah untuk melihat sendiri akar rumpur, karena dengan cara itu maka akan mengetahui permasalahan secara langsung

Boediono mengatakan bahwa dalam bidang apapun para Pengajar Muda akan bertugas nanti, pengalaman untuk menjadi guru dan tinggal dengan masyarakat di pelosok negeri selama satu tahun akan menjadi bekal pemimpin yang sangat mahal.
Seorang pemimpin karbitan yang tak pernah berada di bawah tak akan bisa menghayati dinamika yang terjadi. Jadi penting sekali bagi anda untuk melihat kebutuhan dan keinginan rakyat langsung di akar rumput, katanya.
"Setiap pemimpin pun selalu diuji selalu dan disitulah dinilai apakah pemimpin bisa naik kelas atau tidak," katanya.
Ujian, kata Boediono, jangan dianggap sebagai hal yang menyengsarakan. Ujian lebih baik diikhlaskan karena itulah kesempatan bagi anda menguji diri anda sendiri.

Ditambahkan Wapres, Indonesia adalah negara besar dengan potensi yang besar. Para pendiri bangsa di masa lalu tak punya modal apapun kecuali visi dan kini cita-cita mereka lambat laun mulai terwujud.
Indonesia pernah disebut sebagai "suatu negara yang tak mungkin terwujud", tapi nyatanya bisa diwujudkan.

"Kita yang menerima warisan itu tidak boleh mengurangi apa-apa yang ingin mereka capai. Kita harus menjadi dan memberi sumber-sumber semangat dan harapan dan pada gilirannya setiap orang harus memberi apa yang bisa diberikan," katanya. (ant/bm 10)

Diberdayakan oleh Blogger.