Header Ads

Stefano Lilipaly Pusing Mikir Kisruh di Indonesia

Niat PSSI memanggil Stefano Lilipaly untuk laga terakhir timnas Indonesia lawan Bahrain di babak kualifikasi Piala Dunia 2014 menghadapi kendala. Pemain Belanda keturunan Indonesia ini juga bingung menghadapi dua masalah: masa depannya dan kisruh sepak bola Indonesia.

Stefano Lilipaly, usai laga FC Utrecht melawan PSV Eindhoven 22 Januari lalu, menyatakan bahwa saat ini dirinya tidak terlalu memikirkan timnas Indonesia. Kepada Radio Nederland, gelandang 22 tahun itu mengaku kepalanya pusing kalau memikirkan sepak bola Indonesia. Selain itu dia juga menangkap kabar tidak baik tentang persepakbolaan Indonesia.

“Saya dengar situasi sepak bola di Indonesia sedang tidak stabil dan chaos. Saya sakit kepala kalau memikirkan itu. Karena informasi yang saya terima simpang siur. Dan hal seperti ini jelas tidak baik untuk para pemain,” ungkapnya tanpa membeberkan lebih lanjut kepada Radio Nederland.


Sementara penampilan gemilang menjadi Man of the Match dan mencetak gol perdana pada pertandingan lawan PSV itu, bagi Stefano sendiri merupakan kesempatan yang penting untuk unjuk diri. “Ini meningkatkan rasa percaya diri. Saat ini adalah momen yang baik untuk jadi sorotan publik sepak bola. Apalagi kontrak saya di Utrecht tinggal setahun lagi.”

Persaingan ketat
Stefano ingin tetap memelihara kepercayaan pelatih Jan Wouters dengan tetap bermain bagus. Di posisi gelandang serang itu pemain keturunan ini bersaing ketat dengani dua gelandang Rodney Sneijder dan Anouar Kali.

FC Utrecht bukan hanya mengharapkan permainan bagus Stefano tetapi juga sangat membutuhkan serangkaian tambahan angka kemenangan di pertandingan liga Belanda. Klub Belanda Tengah ini ingin lepas dari zona degradasi. Dari 18 klub liga tertinggi Eredivisie, FC Utrecht menduduki posisi 14 yang belum aman dari ancaman degradasi.

Dibutuhkan FC Utrecht
Jika melihat strategi baru pilihan Jan Wouters dengan mengandalkan pertahanan kuat dan serangan balik yang cepat, maka peran Lilipaly menjadi sangat penting. Usai hasil imbang lawan PSV pekan lalu, Wouters menyatakan puas dengan Lilipaly karena bisa mengisi perannya di lapangan tengah dengan kecenderungan menembus pertahanan lawan.

Menyadari urgensi di FC Utrecht dan bobot pertandingan bersama PSSI di Manama bagi peluang Indonesia ke Piala Dunia 2014, maka pilihan Stefano jelas. “Mengingat pertandingan lawan Bahrain tidak punya arti yang besar, maka saya memilih memusatkan diri ke FC Utrecht saja.”

Hal yang sama juga disampaikan Mark van der Maarel, satu lagi pemain keturunan Indonesia Belanda yang memperkuat FC Utrecht. Kepada Radio Nederland, Mark mengatakan bahwa dia banyak berkomunikasi dengan Stefano mengenai sepak bola Indonesia.

"Saya sering berbincang dengan Stefano mengenai sepak bola Indonesia. Dibanding dia, saya lebih beruntung belum harus memikirkan untuk bermain di timnas Indonesia. Tunggu saja sampai situasi saya memungkinkan dan situasi di Indonesia stabil," tutur bek kanan FC Utrecht pada Radio Nederland.

Pilihan lumrah

Pilihan yang lumrah dari kedua pemain keturunan itu, karena menurut Radio Nederland, sulit mengombinasikan FC Utrecht dengan persiapan serta bermain lawan Bahrain. Membayangkan waktu untuk persiapan dan perjalanan dari Belanda ke Jakarta lalu ke Manama Bahrain akan menghabiskan minimal delapan hari.
Selama itu pula Stefano Lilipaly harus absen dalam dua pertandingan 26 Februari ke FC Twente dan mungkin juga 4 Maret main kandang menjamu N.E.C. Nijmegen.

Sepulang dari Bahrain posisi gelandang yang dipercayakan padanya bisa direbut oleh Rodney Sneijder atau Anouar Kali yang juga mampu mengisi kekosongan itu.

Bau busuk
Sejatinya alasan Stefano untuk konsentrasi di FC Utrecht sangat bisa diterima. Dengan harapan performanya meningkat dan kisruh di Indonesia segera usai. Stefano yang sedang dalam proses mendapatkan paspor Indonesia, tidak membatalkan niatnya, perlu mendapat apresiasi.

Namun keluhannya soal kisruh itu perlu dimaknai sebagai isyarat bahwa konflik antar faksi pengurus sepak bola Indonesia sudah kelewatan. Bau busuk permusuhan antar golongan sudah menyebar ke mana-mana.

Jika kondisi sakit ini tidak segera diakhiri maka mereka yang sekarang terlibat dalam konflik itu harus siap menanggung risiko dicatat dalam sejarah sebagai perusak sepak bola Indonesia.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.